Sabtu, 26 Februari 2011

ASA


Hari-hari ku menanti
Hari-hari ku berharap
Hari-hari perihku memikirkan itu
Harapanku kini hanya asa usang
Menunggu yang tidak pernah datang
Menanti yang sudah melupakan
Aku…..
Kini sadar..
Semua sudah terjadi…
Kata sudah terucap…
Masih ada bekas yang berusaha dihapus
Masih ada asa yang terkurung egois dan kemunafikan
Saat matahari telah terbenam asa itu menangis..
Mengenang yang berusaha dihapuskan
Merindukan yang berusaha dilupakan…
Sampai kapan…????

Jumat, 11 Februari 2011

Selalu ada Jalan



KETIKA JALAN KULALUI
BERPUTAR DI PADANG GURUN
ENGKAULAH YANG MEMELIHARA
HIDUPKU SEMPURNA

KETIKA JALAN YANG KU TEMPUH
BERUJUNG DI SUNGAI DALAM
ENGKAULAH YANG MENGERINGKANNYA
UNTUK KUSEB'RANGI

REFF:

SELALU ADA JALAN
SAAT SEAKAN TIADA JALAN
S'BAB TUHAN ADA DI DEPANKU
MEMBUKA JALAN BAGIKU

SELALU ADA JALAN
DI MANA ADA KEMAUAN
BIARLAH KU HIDUP SELALU
DI JALAN YANG KAU TUNJUKKAN
KEPADAKU

Jonathan Prawira, Album Never Give Up

Rabu, 02 Februari 2011

Pengorbanan


Tiga tahun telah berlalu, masa indah di SMP harus segera kutinggalkan, karna aku harus memulai masa baru di SMA. Meninggalkan para sahabatku yang kusayang, termasuk didalamnya ada Alvin, seseorang yang telah membuatku terus memikirkannya dan sulit untuk melupakannya. Cowok berkaca mata minus dengan penampilan sederhananya, mungkin itu yang membuatku tertarik. Tiga tahun bersama menjalin pertemanan membuat timbul perasaan yang lain dari hanya sebatas teman. Hari-hariku terasa indah bersamanya, kenangan yang akan sulit untuk aku lupakan. Rasaku ini tidak akan pernah tersampaikan, karna aku nggak mau persahabatan yang telah lama terjalin hancur hanya karna ada perasaan cinta di dalamnya.

Pagi yang cerah datang, dan aku telah siap untuk ke sekolah. Aku berangkat bersama sahabatku, Lena. Dalam perjalanan aku terus teringat Alvin . Ditengah perjalanan aku melihat sesuatu yang membuat aku kaget. Alvin kecelakaan, spontan aku dan Lena menuju tempat Alvin terjatuh.
“Vin, kamu nggak apa-apa?” (tanyaku panik). “Aku nggak apa-apa kok.” Jawaban yang sedikit membuat aku tenang. Aku dan Lena membantu Alvin mencari tempat untuk duduk, dengan dibantu oleh orang-orang disekitar tempat itu. Aku membantu Alvin membersihkan lukanya. Saat itu aku bahagia banget, karna aku bisa melakukan sesuatu untuk orang yang aku sayang.

Tiba-tiba Aida muncul dan mendorongku sampai aku jatuh. Aida adalah cewek yang udah lama suka sama Alvin, tapi Alvin tidak memberi respon. “Ngapain kamu disini?, awas Alvin nggak butuh kamu!”. Ucapan kasar Aida itu membuatku sedih dan aku sadar kalau aku bukan siapa-siapanya Alvin. Aku memandang Alvin yang melihatku diam. Lena membantuku berdiri dan mengajakku pergi. Aku hanya menuruti ajakan sahabatku itu. Sebelum aku beranjak pergi, aku berpamitan pada Alvin, “Vin, aku berangkat dulu”. Alvin hanya tersenyum sembari Aida mengalihkan perhaatian Alvin.

Semenjak kejadian itu aku jadi sering diam tanpa alasan. Aku udah jarang banget ngomong sama Alvin. Jujur hal ini membuat aku sedih dan aku semakin sulit untuk melupakan Alvin. Dengan keberanian yang besar aku memutuskan untuk kembali seperti dulu. Aku ingin membuat kenangan indah bersama teman, sahabat dan juga Alvin ditahun terakhir ini. Aku dan Alvin semakin dekat, tak terasa ujian kelulusan sudah dekat dan saat untuk perpisahan akan segera datang.
Hari pelaksanaan ujian kelulusan telah tiba. Aku saat itu satu ruangan dengan Alvin. Perasaan senang bercampur rasa tegang menghadapi ujian. Aku berusaha mengerjakan soal ujian dengan baik, sesekali perhatianku kea rah Alvin yang sedang serius mengerjakan soal. Aku membayangkan, apakah saat-saat bersama ini bisa terulang? “semoga”(ucapku dalam hati).
Tiga hari telah aku lalui, setengah perasaan lega aku rasakan karna setengah lagi tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Saat pengumuman tiba, dan sekarang aku bisa bernafas dengan lega, karna aku dinyatakan lulus dan juga sahabatku, dan seluruh teman2 dinyatatakan lulus semua. Ini adalah suatu kebahagiaan yang tak terukur.

Aku berharap bisa satu SMA lagi bareng sahabat-sahabat aku, termasuk Alvin didalamnya. Ternyata harapanku tak semuanya terjadi. Aku masuk SMA Kasih Bunda, dan yang aku tau, sahabat - sahabatku tidak ada yang masuk SMA ini. Tapi mau dikata apa, biarlah semua terjadi yang penting masih bisa komunikasi. Saat pertama kali masuk sekolah, aku berharap bisa punya teman yang baik seperti di SMP dulu. Disekolah ini aku akan memulai hal baru dan nggak ada lagi Alvin dihari-hariku. Aku bersyukur karna ternyata disini aku bisa mendapatkan teman-teman yang baik dan aku semakin yakin kalau aku bisa enjoy disini. “Selamat Datang Masa SMA”.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh seorang cowok yang mirip banget dengan Alvin. Aku berusaha mendekatinya, dan ternyata benar itu Alvin. Aku saat itu bener-bener nggak nyangka kalau bisa satu sekolah lagi dengan Alvin.
“Vin, kamu sekolah disini juga?”. “iya.” jawab Alvin sembari tersenyum.
Hari ini hari terbahagia buat aku. Aku seneng bisa satu sekolah lagi sama Alvin, meski sudah tidak satu kelas lagi. Aku merasa kebahagiaan yang lengkap hari ini. Aku dan Alvin masih sering ngbrol, kalau lagi ga sempat paling cuma saling sapa aja. Tapi semua nggak berlangsung lama, hingga suatu saat muncul tembok penghalang dalam pertemanan kami berdua.

Suatu pagi dikelas, suara riuh teman-teman sedang membicarakan Alvin. Mereka bilang Alvin pacaran dengan Irma. Irma adalah teman sekelasku. Dia memang cantik dan pintar. Pantas saja kalau Alvin jatuh cinta padanya. Aku sangat sedih mendengarnya, aku takut hubungan pertemanan kami akan segera berakhir.
“selamat ya Vin, kamu udah punya pacar” kata-kata terakhir yang aku ucapkan padanya. Sekarang waktu Alvin hanya untuk Irma, bahkan sekedar menyapaku saja sudah tak sempat lagi. Aku nggak marah sama Alvin, aku tau dia pasti punya alasan untuk bersikap seperti itu. Mungkin dia takut sama pacarnya.

Hari-hari ku jalani seperti biasa dengan teman-teman, aku masih tetap bisa tersenyum, meski rasa sakit masih sedikit tertinggal. Aku sering melihat sikap kasar Irma ke Alvin. Sedih rasanya, tapi aku nggak bisa ikut campur masalah mereka. Alvin tetap saja sabar diperlakukan seperti itu, mungkin karna Alvin cinta mati pada Irma.
Andai Alvin tahu perasaanku padanya, yang telah aku pendam sejak SMP, aku sangat menyayanginya dan tak akan menyakitinya seperti yang telah dilakukan Irma. Tapi itu semua tak akan mungkin terjadi, aku harus bisa berkorban untuk orang yang aku sayang, meski itu menyakitkan buatku.
Karna cinta sejati adalah saat kita rela melakukan sesuatu untuk orang yang kita sayang. Aku hanya bisa berdoa agar hubungan mereka berjalan dengan lancar dan bahagia.

PENGORBANAN
Pertama ku mengenalmu
Aku hanya menganggapmu sahabat
Hingga rasa cinta tumbuh dalam hatiku
Tapi aku takut ungkapkan padamu
Sekarang kau telah memilih dia
Kau putuskan tali pertemanan kita
Hanya karena dirinya
Aku rela melepaskan dirimu
Demi melihat kau bahagia
Dengan dia pilihan hatimu
Rasa ini akan kubawa sendiri
Sampai akhir waktuku
Tanpa kau harus tau’
Bahwa aku mencintaimu

30 Des 2007